Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

Archive for April, 2012

Manusia Pertama

Menurut kepercayaan Hindu, manusia pertama adalah Swayambu Manu, yang muncul dengan sendirinya dari Dewa Brahma.

Brahma Purana, menyatakan :
“Untuk melanjutkan Penciptaan, Brahma memberi bentuk kepada seorang Pria dan Wanita. Pria itu Swayambhu Manu dan Perempuan itu bernama Shatrupa. ” Dewa Brahma meminta untuk mengatur atau mendirikan kekuasaan mereka di Planet Bumi. Manusia adalah keturunan dari Manu, itulah alasan mereka dikenal sebagai Manava

Swayambhu Manu dan Shatarupa melahirkan putra yang bernama : Priyavarata dan Uttanapada, dan putri yang bernama Devahuti dan Akuti. Kedua anak putra itu menikah dengan putri Rsi (putri-putri dari Tujuh Rsi / Sapta Rsi, salah satu Prajapati atau fasilitator penciptaan yang diciptakan oleh Dewa Brahma), sementara dua putri Manu menikah dengan Manas-Putras yang lain (Manasa Putra is mind-born-son of Lord Brahma, putra atau putri yang diciptakan oleh kehendak atau fikiran Brahma).
Anak Uttanapada adalah Dhruva yang agung.

Bhagavad-gita 4.1
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krsna, bersabda; Aku telah mengajarkan ilmu pengetahuan yoga ini yang tidak dapat dimusnahkan kepada dewa matahari , vivasvan, kemudian vivasvan mengajarkan ilmu pengetahuan ini kepada Manu, ayah manusia, kemudian Manu mengajarkan ilmu pengetahuan itu kepada iksvaku.

Bhagavad-gita 10.6
Tujuh resi yang mulia, dan sebelum mereka empat resi lainnya serta para Manu [leluhur manusia], berasal dari-Ku. Mereka dilahirkan dari pikiran-Ku, dan semua makhluk hidup yang menghuni berbagai planet adalah keturunan dari mereka.

Manas artinya berfikir. Kata “Man” dalam Bahasa Inggris berasal dari kata Manu. Kata “Manusia” berarti keturunan Manu. Kata Nuh atau Noah juga berasal dari kata Manu.

Kalau tentang “banjir besar” itu berhubungan dengan Vaivasvata Manu dan jelas bahwa Manu ini adalah yang ke-7, jadi sebelumnya telah ada Manu-Manu yang lain.

Jadi sampai saat ini kita berada pada generasi Vaivasvata Manu, atau manu yang ke 7. Jadi di dunia ini menurut Hindu sudah tercipta 7 jenis manusia pertama yang pada akhirnya melakukan perkawinan silang dan menghasilkan banyak ras-ras manusia yang berbeda.

Sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 3.13.14 -16 bahwasanya di dalam 1 Kalpa, akan tercipta 14 generasi manusia (Manu). Masing-masing dari ke-14 manu tersebut adalah;
1.    Swayambhu Manu
2.    Swarochisha Manu
3.    Auttami Manu
4.    Támasa Manu
5.    Raivata Manu
6.    Chakshusha Manu
7.    Vaivasvata Manu
8.    Savarni Manu
9.    Daksa Savarni Manu
10.    Brahma Savarni Manu
11.    Dharma Savarni Manu
12.    Rudra Savarni Manu
13.    Raucya / Deva Savarni Manu
14.    Bhauta / Indra Savarni Manu

Demikianlah manusia pertama menurut Hindu.


Ilustrasi : Vaivasvata Manu dan Matsya Avatar
menjelang banjir besar

Apakah Ada Kasta di Agama Hindu?

Benarkah ada kasta rendah dan kasta tinggi di dalam Agama Hindu?

———————————-
Bhagavad-gita 9.30

Meskipun seseorang melakukan perbuatan yang paling jijik, kalau ia tekun dalam bhakti, ia harus diakui sebagai orang suci karena ia mantap dalam ketabahan hatinya dengan cara yang benar.

Bhagavad-gita 18.45
Dengan mengikuti sifat-sifat pekerjaannya, setiap orang dapat menjadi sempurna. Sekarang dengarlah dari-Ku bagaimana kesempurnaan ini dapat dicapai.

Bhagavad-gita 18.46
Dengan sembahyang kepada Tuhan, sumber semua makhluk, yang berada di mana-mana, seseorang dapat mencapai kesempurnaan dengan melakukan pekerjaan sendiri.
———————————-

Kata “kasta” berasal dari bahasa Portugis “caste” yang berarti pemisah, tembok, atau batas. Sejarah kasta yang dituduhkan pada masyarakat Hindu berawal dari kedatangan Bangsa Portugis yang melakukan pengarungan samudra ke dunia timur yang didasari atas semangat Gold (memperoleh kekayaan) Glory (memperoleh kejayaan) dan Gospel (penyebaran agama/penginjilan). Caste yang dalam sejarah portugis sudah berlangsung lama akibat proses Feodalisme. Bahkan feodalisme ini terjadi pada semua sejarah masyarakat dunia. Di Inggris muncul penggolongan masyarakat secara vertikal dengan membedakan namanya seperti Sir, Lord, Duke, dll. Gelar-gelar kebangsawanan Teuku dan Cut masih diterapkan secara kental di Aceh, di Jawa sendiri juga diterapkan dalam pemberian nama raden.

Istilah kasta dilekatkan pada agama Hindu mulai ada semenjak kesalahan Max Muller dalam menterjemahkan Weda kedalam Bhs Inggris. Max Muller menterjemahkan Catur Warna sama dengan kasta.

Tidak ada istilah Kasta di kitab suci Hindu baik Weda maupun sastra-sastra lainnya. Yang ada adalah yang menerangkan beberapa profesi (Warna) yang diantaranya ada yang sebagai pemuka agama (Brahmana), pemimpin dan Tentara (Kesatria), pedagang / pengusaha (Wesia) dan buruh / kalangan biasa (Sudra). Tidak disebutkan mana yang tinggi dan mana yang rendah. Contoh : Perampok Valmiki setelah sadar dan memuja Tuhan menjadi Maha Rsi Valmiki (profesi Brahmana), yang adalah penulis kisah nyata Ramayana.

Adanya klasifikasi profesi ini diplesetkan dan dimanfaatkan oleh kalangan tertuntu baik internal maupun ekternal untuk kepentingan individu, kelompok maupun penjajah, di India maupun di Indonesia. Sebelum abad ke-14, “gelar kasta” tidak dikenal di Bali/ Jawa. Penjajah Belanda, selama 350 tahun menguatkan sistem kasta karena ini sesuai dengan politik divide et impera – nya. Di Bali saat ini hampir tidak ada pengaruhnya, yang masih ada hanyalah “gelar-gelar” yang hampir tidak ada implikasinya dalam masyarakat terkecuali individu-individu tertentu.

Adalah kenyataan di dunia dari dulu sampai sekarang, dimanapun, bangsa dan agama manapun, bahwa, pemuka agama dan pemimpin di masyarakat atau negara lebih dihormati, prioritas dan sebagainya. Jadi kalau demikian apakah hal ini bisa disebut Kasta ?



Apakah Tuhan Bisa Turun ke Dunia Sebagai Manusia?

Awatara atau Avatar adalah Percikan Rohani Tuhan Yang Maha Esa yang mengambil atau mengenakan atau memakai suatu bentuk / wujud dalam dunia material, dalam hal ini badan manusia, walaupun cahaya Rohani Beliau tidak terbatas ada dimana-mana pada saat yang sama.

Bhagavad-gita 4.6
Walaupun Aku tidak dilahirkan dan badan rohani-Ku tidak pernah merosot, dan walaupun Aku penguasa semua makhluk hidup, Aku masih muncul pada setiap jaman dalam bentuk rohani-Ku yang asli.

Bhagavad-gita 4.7
Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela-pada waktu itulah Aku sendiri menjelma, Wahai putera keluarga Bharata.

Bhagavad-gita 8.22
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya.

Bhagavad-gita 9.4
Aku berada di mana-mana di seluruh alam semesta dalam bentuk-Ku yang tidak terwujud. Semua makhluk hidup berada dalam diri-Ku, tetapi Aku tidak berada di dalam mereka.

Bhagavad-gita 9.11
Orang bodoh mengejek diri-Ku bila Aku menurun dalam bentuk seperti manusia. Mereka tidak mengenal sifat rohani-Ku sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang berkuasa atas segala sesuatu yang ada.

Bhagavad-gita 13.16
Kebenaran yang paling utama berada di luar dan di dalam semua makhluk hidup, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Oleh karena Beliau bersifat halus, Beliau di luar daya lihat atau daya mengerti indria-indria material. Kendatipun Beliau jauh sekali, Beliau juga dekat kepada semua makhluk hidup.

Bhagavad-gita 13.28
Orang yang melihat Roh Yang Utama mendampingi roh individual di dalam semua badan, dan mengerti bahwa sang roh dan Roh Yang Utama tidak pernah dimusnahkan di dalam badan yang dapat dimusnahkan, melihat dengan sebenarnya.

Bhagavad-gita 13.29
Orang yang melihat Roh Yang Utama berada di mana-mana dengan cara yang sama di dalam setiap makhluk hidup tidak menyebabkan dirinya merosot karena pikirannya. Dengan cara demikian ia mendekati tujuan rohani.

——————————-

Materi / Panca Maha Butha yang maya.

Dr. Ben Johnson juga mengatakan segala sesuatu adalah energi. Ada semesta, galaksi kita, planet kita, kemudian didalam tubuh ini tedapat sistem organ, kemudian sel, kemudian molekul, dan kemudian atom. Dan kemudian terdapat energi, segala materi di alam semesta adalah energi.

Akasa (sunya) sesungguhnya merupakan unsur dasar dari alam semesta. Bahkan sampai tingkat mikroskopis pun, akasa merupakan komponen terbesar penyusun materi. Dalam tingkat atom, partikel-partikel sublementer ( proton, elektron dan netron) yang menyusun atom dipisahkan oleh jarak sangat besar dibandingkan ukuran-ukuran partikel subelementer tersebut. Dengan demikian, 99,999 % bagian atom adalah ruang kosong.

Deepak Chopra (2002) menyatakan, bahwa segala sesuatu yang kita sentuh, termasuk badan kita, tersusun dari atom-atom kosong itu. Demikian juga terdiri dari rongga-rongga kosong, meskipun secara kasar kelihatan padat dan berbentuk. Kenyataanya, kita sama kosongnya dengan ruang angkasa di antara gugusan bintang-bintang.

Sumber : thinking-in-dharma.blogspot.com

——————————-

Jarak kita semua dengan Tuhan tidak ada jarak sama sekali. Hanya kesadaran kita masing-masing saja yang membatasinya.

Bhagavad-gita 15.7
Para makhluk hidup di dunia yang terikat ini adalah bagian-bagian percikan yang kekal dari Diri-Ku. Oleh karena kehidupan yang terikat, mereka berjuang dengan keras sekali melawan enam indria, termasuk pikiran.

Kita manusia dan hewan hanya terjebak dalam ketidaksadaran terhadap lautan Tuhan. Padahal semuanya adalah Cahaya Tuhan (Brahman). Seperti buih-buih ombak di lautan samudra yang luas, sementara pada saat berbentuk buih kita mengira bahwa kita adalah benar benar buih padahal kita ada dalam Lautan , “buih, ombak dan lautan” adalah Lautan itu sendiri. Kemelekatan, kebodohan, ketidaksadaran dan ego adalah udara yang dikandung buih-buih itu.

Ilustrasi : Bhagavan Krishna membuktikan bahwa
Beliau adalah Kepribadian Tuhan yang asli dengan
memperlihatkan bentuk semestaNya (keseluruhan manifestasi)
kepada Arjuna dari satu tempat dan waktu yang sama.

Apakah Benar Agama Hindu Penyembah Berhala Patung Kafir dan Dewa?

Benarkah Agama Hindu Penyembah Berhala Patung Kafir dan Hanya Memuja Dewa?

———————————–

Bhagavad-gita 7.20
Orang yang kecerdasannya sudah dicuri oleh keinginan duniawi menyerahkan diri kepada para dewa dan mengikuti aturan dan peraturan sembahyang tertentu menurut sifatnya masing-masing.

Bhagavad-gita 7.21
Aku bersemayam di dalam hati semua orang sebagai Roh Yang Utama. Begitu seseorang menyembah dewa tertentu, Aku menjadikan kepercayaannya mantap supaya ia dapat menyerahkan diri kepada dewa itu.

Bhagavad-gita 7.22
Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tetapi sebenarnya hanya Aku Sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu.

Bhagavad-gita 7.23
Orang yang kurang cerdas menyembah para dewa, dan hasilnya terbatas dan sementara. Orang yang menyembah para dewa pergi ke planet-planet para dewa, tetapi para penyembah-Ku akhirnya mencapai planet-Ku yang paling tinggi.

Bhagavad-gita 9.23
Orang yang menjadi penyembah dewa-dewa lain dan menyembah dewa-dewa itu dengan kepercayaan sebenarnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka berbuat demikian dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti.

Bhagavad-gita 9.25
Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku.

Bhagavad-gita 10.2
Baik para dewa maupun resi-resi yang mulia tidak mengenal asal mula maupun kehebatan-Ku, sebab, dalam segala hal, Aku adalah sumber dewa-dewa dan resi-resi.
———————————–
Maksud dari sloka-sloka diatas adalah bila menyembah dewa-dewa atau hal-hal dibawahnya dengan tujuan duniawi (menjadi terikat karenanya) dan tanpa memahami hakekat Bhagavan / Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), sebagai asal muasal dewa-dewa dan semua mahluk lainnya.

svarupa-sakti

Sifat atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan) yang Rohani tanpa wujud baru bisa difahami oleh manusia bahkan oleh para dewa bila Beliau mengambil wujud.  Misalnya wujud yang Beliau pilih saat inkarnasi (Avatar) di Bumi adalah Krishna dan Rama, walaupun pada saat yang sama Bhagavan yang Rohani bisa ada dimana-mana dan juga pancaran cahaya Brahman yang Rohani ada dimana-mana tidak terbatas. Penggunaan sarana gambar atau patung dari wujud yang pernah Beliau pilih adalah hanya sarana untuk memudahkan dalam memfokuskan (mengingat) kepada Kepribadian Tuhan yang rohani / melampaui hal-hal material, bukan menyembah gambar / patung tersebut secara material.

Tuhan yang tidak berwujud dan meliputi segala sesuatu dapat dihayati secara murni dan lengkap dalam pemujaan arca atau gambar yang melukiskan perwujudan-Nya (manifestasiNya). Patung atau gambar itu mempunyai manfaat yang sama seperti kiasan dan perumpamaan dalam puisi, yaitu untuk menerangkan, menjelaskan, dan memudahkan pengertian. Pemujaan ini sesungguhnya didasarkan pada kemampuan manusia untuk melihat alam semesta (makrokosmos) dalam replika mini (mikrokosmos).

Rasa lautan dapat dikecap secara lengkap dalam setiap tetesan airnya, tetapi ini tidak berarti bahwa tetesan air itu adalah samudra. Kita melihat tetesan air dan lautan sebagai dua hal yang terpisah, tetapi keduanya mempunyai sifat dan rasa yang sama.
Bila nama dan wujud Tuhan yang dipilih seorang bakta diubah menjadi yang tidak berwujud dan tanpa sifat, maka Ia disebut Brahmam ‘Yang Mahabesar, Yang Mutlak’.  Bila “setetes” Yang Mahabesar dan Mutlak itu muncul dengan sifat dan wujud, mungkin Ia disebut sebagai Rama, Krishna, Wisnu, atau Siwa.

Bhagavad-gita 12.1 Arjuna bertanya; yang mana dianggap lebih sempurna; orang yang selalu tekun dalam bhakti kepada Anda dengan cara yang benar ataukah orang yang menyembah Brahman, yang tidak bersifat pribadi dan tidak terwujud?

Bhagavad-gita 12.2 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna.

Bhagavad-gita 12.3-4  Tetapi orang yang sepenuhnya menyembah yang tidak terwujud , di luar jangkauan indria-indria, yang berada di mana-mana, tidak dapat dipahami, tidak pernah berubah, mantap dan tidak dapat dipindahkan-paham tentang kebenaran Mutlak yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan-dengan mengendalikan indria-indria, bersikap yang sama terhadap semua orang, dan sibuk demi kesejahteraan semua orang, akhirnya mencapai kepada-Ku.

Bhagavad-gita 12.5  Orang yang pikirannya terikat pada aspek Yang Mahakuasa yang tidak berwujud dan tidak bersifat pribadi sulit sekali maju. Kemajuan dalam disiplin itu selalu sulit sekali bagi orang yang mempunyai badan.

———————————–

Gita menyatakan, tidak mungkinlah manusia mencapai tingkat tanpa sifat dan bentuk, sebelum ia melalui tahap memuja Tuhan dengan sifat dan wujud-Nya. Selama engkau masih memiliki keterikatan pada badan kasar dan masih tenggelam dalam kesadaran fisik, engkau tidak akan mampu memahami serta mencapai Yang Mahatinggi yang tanpa sifat dan tanpa bentuk. Engkau akan dapat memuja yang tak berwujud, bila engkau telah mampu mengatasi keterikatanmu dengan raga, keterikatanmu dengan keduniawian, dan semua keterikatan lain. Karena itu, selama engkau menyamakan dirimu dengan badan dan beranggapan bahwa engkau mempunyai wujud tertentu, engkau tidak akan dapat mencapai aspek Tuhan yang tanpa wujud.

Maka engkau harus mulai memuja Tuhan dengan sifat-Nya, artinya, engkau memuja inkarnasi atau perwujudan-Nya yang tertentu. Lambat laun, sesudah ini berjalan beberapa lama, engkau akan dapat mengubah latihan rohanimu dan menjadi pemuja Yang Mahatinggi dalam aspek-Nya yang tak berwujud. Orang-orang beranggapan bahwa mereka bisa saja memuja wujud Tuhan yang universal, tetapi ini pun pada hakikatnya merupakan pemujaan suatu wujud.

Engkau tidak dapat selamanya mendasarkan pengalamanmu hanya atas prinsip ketuhanan yang diwujudkan dengan nama dan rupa. Aspek wujud dan aspek tanpa wujud sama pentingnya bagi seorang bhakta. Ibarat kedua sayap burung atau kedua kaki untuk berjalan. Tujuan dapat dicapai dengan kedua kaki itu yaitu dengan wujud dan tanpa wujud., dengan meletakkan satu kaki di depan yang lain, kaki yang melambangkan wujud ditopang oleh kaki lainnya yang melambangkan tanpa wujud. Perlu kita sadari bahwa penjelmaan Tuhan dengan wujud hanya bersifat sementara, sedangkan aspek ketuhanan tanpa wujud bersifat kekal, ada di mana-mana dan tak berubah.

Demi kepuasan manusiawi engkau memberikan nama dan wujud kepada Tuhan, tetapi sesungguhnya Ia sama sekali tidak berwujud. Namun, Ia mengambil suatu wujud sehingga engkau dapat memuja-Nya dan mengagumi-Nya, berbhakti dan mencintai-Nya dan dengan demikian memenuhi cita-cita spiritualmu.


Istilah berhala dan kafir adalah istilah diluar Agama Hindu dan tidak ada hubungannya dengan Agama Hindu.

Dalam Agama Hindu hanya ada istilah keterikatan terhadap hal-hal duniawi (yang mungkin bisa disamakan menyembah berhala), serta istilah Adharma (tidak menjalankan Prinsip-Prinsip Dharma, yang mungkin bisa disamakan dengan istilah kafir), yang ditujukan kepada seseorang, bukan kepada suatu suku, agama atau bangsa. Jadi fikiran, perkataan dan perbuatan baik atau buruk seseoranglah yang menentukan, yang sifatnya universal.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.