Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

Benarkah Agama Hindu Penyembah Berhala Patung Kafir dan Hanya Memuja Dewa?

———————————–

Bhagavad-gita 7.20
Orang yang kecerdasannya sudah dicuri oleh keinginan duniawi menyerahkan diri kepada para dewa dan mengikuti aturan dan peraturan sembahyang tertentu menurut sifatnya masing-masing.

Bhagavad-gita 7.21
Aku bersemayam di dalam hati semua orang sebagai Roh Yang Utama. Begitu seseorang menyembah dewa tertentu, Aku menjadikan kepercayaannya mantap supaya ia dapat menyerahkan diri kepada dewa itu.

Bhagavad-gita 7.22
Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tetapi sebenarnya hanya Aku Sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu.

Bhagavad-gita 7.23
Orang yang kurang cerdas menyembah para dewa, dan hasilnya terbatas dan sementara. Orang yang menyembah para dewa pergi ke planet-planet para dewa, tetapi para penyembah-Ku akhirnya mencapai planet-Ku yang paling tinggi.

Bhagavad-gita 9.23
Orang yang menjadi penyembah dewa-dewa lain dan menyembah dewa-dewa itu dengan kepercayaan sebenarnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka berbuat demikian dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti.

Bhagavad-gita 9.25
Orang yang menyembah dewa-dewa akan dilahirkan di antara para dewa, orang yang menyembah leluhur akan pergi ke leluhur, orang yang menyembah hantu dan roh halus akan dilahirkan di tengah-tengah makhluk-makhluk seperti itu, dan orang yang menyembah-Ku akan hidup bersama-Ku.

Bhagavad-gita 10.2
Baik para dewa maupun resi-resi yang mulia tidak mengenal asal mula maupun kehebatan-Ku, sebab, dalam segala hal, Aku adalah sumber dewa-dewa dan resi-resi.
———————————–
Maksud dari sloka-sloka diatas adalah bila menyembah dewa-dewa atau hal-hal dibawahnya dengan tujuan duniawi (menjadi terikat karenanya) dan tanpa memahami hakekat Bhagavan / Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), sebagai asal muasal dewa-dewa dan semua mahluk lainnya.

svarupa-sakti

Sifat atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan) yang Rohani tanpa wujud baru bisa difahami oleh manusia bahkan oleh para dewa bila Beliau mengambil wujud.  Misalnya wujud yang Beliau pilih saat inkarnasi (Avatar) di Bumi adalah Krishna dan Rama, walaupun pada saat yang sama Bhagavan yang Rohani bisa ada dimana-mana dan juga pancaran cahaya Brahman yang Rohani ada dimana-mana tidak terbatas. Penggunaan sarana gambar atau patung dari wujud yang pernah Beliau pilih adalah hanya sarana untuk memudahkan dalam memfokuskan (mengingat) kepada Kepribadian Tuhan yang rohani / melampaui hal-hal material, bukan menyembah gambar / patung tersebut secara material. Walaupun juga pada umumnya gambar dan patung hanyalah “hiasan” atau simbol dalam membawa suasana khusuk dan bersembahyang kehadapan Tuhan yang tanpa wujud dengan pengucapan “Om”.

Tuhan yang tidak berwujud dan meliputi segala sesuatu dapat dihayati secara murni dan lengkap dalam pemujaan arca atau gambar yang melukiskan perwujudan-Nya (manifestasiNya). Patung atau gambar itu mempunyai manfaat yang sama seperti kiasan dan perumpamaan dalam puisi, yaitu untuk menerangkan, menjelaskan, dan memudahkan pengertian. Pemujaan ini sesungguhnya didasarkan pada kemampuan manusia untuk melihat alam semesta (makrokosmos) dalam replika mini (mikrokosmos).

Rasa lautan dapat dikecap secara lengkap dalam setiap tetesan airnya, tetapi ini tidak berarti bahwa tetesan air itu adalah samudra. Kita melihat tetesan air dan lautan sebagai dua hal yang terpisah, tetapi keduanya mempunyai sifat dan rasa yang sama.
Bila nama dan wujud Tuhan yang dipilih seorang bakta diubah menjadi yang tidak berwujud dan tanpa sifat, maka Ia disebut Brahmam ‘Yang Mahabesar, Yang Mutlak’.  Bila “setetes” Yang Mahabesar dan Mutlak itu muncul dengan sifat dan wujud, mungkin Ia disebut sebagai Rama, Krishna, Wisnu, atau Siwa.
Sumber :
ssg-kupang.hostoi.com/PremaVahini/Wacana18.html

Bhagavad-gita 12.1 Arjuna bertanya; yang mana dianggap lebih sempurna; orang yang selalu tekun dalam bhakti kepada Anda dengan cara yang benar ataukah orang yang menyembah Brahman, yang tidak bersifat pribadi dan tidak terwujud?

Bhagavad-gita 12.2 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi-Ku dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna.

Bhagavad-gita 12.3-4  Tetapi orang yang sepenuhnya menyembah yang tidak terwujud , di luar jangkauan indria-indria, yang berada di mana-mana, tidak dapat dipahami, tidak pernah berubah, mantap dan tidak dapat dipindahkan-paham tentang kebenaran Mutlak yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan-dengan mengendalikan indria-indria, bersikap yang sama terhadap semua orang, dan sibuk demi kesejahteraan semua orang, akhirnya mencapai kepada-Ku.

Bhagavad-gita 12.5  Orang yang pikirannya terikat pada aspek Yang Mahakuasa yang tidak berwujud dan tidak bersifat pribadi sulit sekali maju. Kemajuan dalam disiplin itu selalu sulit sekali bagi orang yang mempunyai badan.

———————————–

Gita menyatakan, tidak mungkinlah manusia mencapai tingkat tanpa sifat dan bentuk, sebelum ia melalui tahap memuja Tuhan dengan sifat dan wujud-Nya. Selama engkau masih memiliki keterikatan pada badan kasar dan masih tenggelam dalam kesadaran fisik, engkau tidak akan mampu memahami serta mencapai Yang Mahatinggi yang tanpa sifat dan tanpa bentuk. Engkau akan dapat memuja yang tak berwujud, bila engkau telah mampu mengatasi keterikatanmu dengan raga, keterikatanmu dengan keduniawian, dan semua keterikatan lain. Karena itu, selama engkau menyamakan dirimu dengan badan dan beranggapan bahwa engkau mempunyai wujud tertentu, engkau tidak akan dapat mencapai aspek Tuhan yang tanpa wujud.

Maka engkau harus mulai memuja Tuhan dengan sifat-Nya, artinya, engkau memuja inkarnasi atau perwujudan-Nya yang tertentu. Lambat laun, sesudah ini berjalan beberapa lama, engkau akan dapat mengubah latihan rohanimu dan menjadi pemuja Yang Mahatinggi dalam aspek-Nya yang tak berwujud. Orang-orang beranggapan bahwa mereka bisa saja memuja wujud Tuhan yang universal, tetapi ini pun pada hakikatnya merupakan pemujaan suatu wujud.

Engkau tidak dapat selamanya mendasarkan pengalamanmu hanya atas prinsip ketuhanan yang diwujudkan dengan nama dan rupa. Aspek wujud dan aspek tanpa wujud sama pentingnya bagi seorang bhakta. Ibarat kedua sayap burung atau kedua kaki untuk berjalan. Tujuan dapat dicapai dengan kedua kaki itu yaitu dengan wujud dan tanpa wujud., dengan meletakkan satu kaki di depan yang lain, kaki yang melambangkan wujud ditopang oleh kaki lainnya yang melambangkan tanpa wujud. Perlu kita sadari bahwa penjelmaan Tuhan dengan wujud hanya bersifat sementara, sedangkan aspek ketuhanan tanpa wujud bersifat kekal, ada di mana-mana dan tak berubah.

Demi kepuasan manusiawi engkau memberikan nama dan wujud kepada Tuhan, tetapi sesungguhnya Ia sama sekali tidak berwujud. Namun, Ia mengambil suatu wujud sehingga engkau dapat memuja-Nya dan mengagumi-Nya, berbhakti dan mencintai-Nya dan dengan demikian memenuhi cita-cita spiritualmu.

Sumber :
ssg-kupang.hostoi.com/IntisariBhagawadGita/BhagawadGita03.html

Istilah berhala dan kafir adalah istilah diluar Agama Hindu dan tidak ada hubungannya dengan Agama Hindu.

Dalam Agama Hindu hanya ada istilah keterikatan terhadap hal-hal duniawi (yang mungkin bisa disamakan menyembah berhala), serta istilah Adharma (tidak menjalankan Prinsip-Prinsip Dharma, yang mungkin bisa disamakan dengan istilah kafir), yang ditujukan kepada seseorang, bukan kepada suatu suku, agama atau bangsa. Jadi fikiran, perkataan dan perbuatan baik atau buruk seseoranglah yang menentukan, yang sifatnya universal.

———————————–
Mantra Hindu selalu dimulai dengan “Om”
Aspek Tuhan dan Dewa-Dewa

Sembahyang Sehari-hari Umat Hindu
Intisari Ajaran Agama Hindu

About these ads

Comments on: "Apakah Benar Agama Hindu Penyembah Berhala Patung Kafir dan Dewa?" (28)

  1. Patung hanyalah hiasan, sama saja dg agama lain ada lambang2 / huruf yg dipasang di dinding atau di tempat ibadah.

  2. Ide Tulisan yang bagus.
    Mohon lebih diperjelas uraiannya, terutama sloka Bhagawad Gita-nya, tanpa penjelasan orang akan bisa terjerumus pada pemahaman yang salah….. terima kasih…

  3. Salam dan selamat sejahtera. Artikel di atas menyebut bahawa patung2 itu hanyalah sekadar hiasan.

    Jika begitu, mengapa dalam filem2 hindustan, dan di kuil2 Hindu yg ada di negara ini, mereka menyembah, sujud dan bermohon kepada PATUNG?

    Sekadar hiasan saja kah jika begitu? Atau hiasan yang disembah? Mohon penjelasan :)

    • Sdr. Ahmad.
      Mereka bukan memohon kepada patung secara langsung. Tentu saja mereka sebagai manusia mengerti bahwa patung terbuat dari batu atau kayu atau bahan-bahan lainnya, bahkan mereka sendiri yang membuat patung2 tsb.
      Beberapa orang mungkin lebih khusuk berdoa bila ada visualisasi wujud inkarnasi (manifestasi) Tuhan di depan mereka walaupun mereka mengerti pada dasarnya Tuhan tanpa wujud dan ada dimana-mana (Brahman), selain dalam hal agama, visualisasi seperti ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari bahkan dalam hal ber-bangsa dan ber-negara.

      Sedangkan umat Hindu yang lain tidak memerlukan visualisasi sama sekali, lebih khusuk berdoa / menghayati Tuhan tanpa bentuk, atau japa / meditasi / bhajan kepada cahaya Tuhan Brahman dan Nama-Nama Tuhan “Om” atau Nama-nama Tuhan yang lain seperti Narayana.

      Bahkan Nama-Nama Tuhan, lambang huruf Tuhan, simbol-simbol, adalah bentuk lain dari visualisasi Tuhan, seperti juga bila ditambah dengan kata Maha ini Maha itu… dan seterusnya. Tuhan dalam wujud seperti Dewa Wisnu juga adalah visualisasi dari sifat-sifat dan kemahakuasaan Tuhan bahkan Tuhan sendiri yang mem-visualisasi-kan DiriNya sendiri.

  4. Istilah berhala atau Pagan (murni menyembah patung) di luar sana berbeda 180 derajat dengan adanya orang-orang tertentu di Hindu yang menggunakan patung Krisna atau Dewa Wisnu sebagai visualisasi kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, seperti halnya juga beberapa agama yang lain, yang merasa nyaman bila melakukannya dengan cara itu namun tetap memuja Tuhan tanpa bentuk di saat yang lain.

    Tuhan sebagai pribadi dan Tuhan tanpa bentuk dua-duanya penting.

    Hebatnya lagi ada wahyu dari Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavad Gita, Rigveda) yang menjamin cara-cara berbeda untuk memujanya atau Nama-Nama Tuhan yang berbeda yang bisa kita sembah, yang sesuai dengan perkembangan jaman. Apapun itu akhirnya hanya amal perbuatan kita (Karma) yang menentukan.

  5. @ahmad jalan pikir anda mohon di perluas…orang yg berfikiran pendek pasti selalu tidak pernah menemukan jawaban dalam dirinya sendiri, pahamilah artikel di atas, maka anda akan tau jawabannya..
    _untuk anda, apa anda tw bentuk tuhan..
    _ jika anda menyembah tuhan langsung, pasti anda tw tuhan itu ada di arah mana,

    Manusia bukanlah mahluk sempurna,.
    Spt artikel yg di tuliskan dalam kitab, walaupun mereka menyembah dewa” sesungguhnya mereka menyembah Ku,
    _ jika manusia hanya menyembah para dewa tapi tidak memfokuskan pikirannya kepadaKu hasilnya akan percuma,
    Maka anda yg menyembah tuhan n tidak mempergunakan perantara tpi sesungguhnya anda juga menggunakan perantara spt: tulisa(anda juga menyembah tulisan)
    Jadi perluaslah ajaran agama anda , n perluaskan pola pemikiran anda, anda hanya manusia yg penuh pemikiran buruk sehingga keyakinan umat lain anda pertanyakan, tapi keyakinan anda sendiri yg sebenarnya sam,a tidak anda ketahui..
    Salam sejahtera.
    _ jika ada

    • saudaraku ahmad,mungkin dalam agama anda yang seperti itu di anggap berhala,begini seperti halnya kita bernegara ada burung garuda,bendera merah putih,kalua semua itu anda anggap berhala,jadi bangsa ini penyembah berhala dong,termasuk anda juga. perluaslah jalan pikiran anda.tq

  6. Agus Hermana said:

    Tuhan Tanpa Bentuk memenuhi seluruh alam semesta, Brahman, tetapi dalam kenyataannya juga Tuhan bisa memperlihatkan Diri-Nya dalam suatu wujud sesuai fungsi-Nya, yang kita biasa sebut Dewa. Karena Tuhan maha kuasa.. pada dasarnya Tuhan bisa memperlihatkan Diri-Nya dlm wujud apa saja, namun Tuhan Tanpa Bentuk tetap ada seperti sedia kala, tdk berubah. Umat Hindu sampai kapanpun tidak akan bingung dengan segala bentuk Dewa atau apapun, karena semuanya ada di dalam Tuhan, kalau saja ada satu atom pun yg ada diluar Tuhan berarti Tuhan tdk maha kuasa.

    Ibarat dunia teknologi, Itulah mekanisme Tuhan dalam berkomunikasi dalam Veda, tidak hanya suara, tetapi visual dan suara. baik antar Dewa maupun Maha Rsi yg mendapat pengelihatan. Contoh2 kisah seperti ini bertebaran di dunia Hindu. Maha Rsi maupun Brahma Rsi tingkatannya sangat jauh lebih tinggi daripada “nabi” yang manusia biasa yang “dibantu”. Sedangkan Maha Rsi / Brahma Rsi sudah berkesadaran Brahman, ibaratnya sekat2 maya sdh tdk ada, sehingga tahu masa lalu, masa kini, masa depan, terhubung langsung dengan pengetahuan abadi Veda, kira2 seperti itu, itulah maka semua ilmu pengetahuan rohani dan materi berasal dari India, bahkan sampai hal2 “sepele” seperti matematika, pengobatan, fisika, dll. Pengetahuan2 ini dibawa ke arah barat, diterjemahkan dsb.

    Sedangkan Avatara tidak tertandingi, terhubung sepenuhnya dengan Tuhan Yang Maha Esa tanpa wujud yang memenuhi alam semesta. Seperti halnya avatara, Dewa pun terhubung dengan Tuhan Yang Maha Esa tanpa wujud.

    Namun demikian apapun yg berwujud selalu ada batasnya sesuai porsi, termasuk Avatara, ada batas2 dlm memperlihatkan “keajaiban2″. Dewa juga ada batasan tertentu sesuai fungsinya, apalagi manusia biasa, hewan, dst. Itulah maka semua berjalan harmonis, hanya Tuhan yang tanpa wujud Brahman yg tdk terbatas, awal tengah dan akhir, kekal. Tuhan Tanpa Wujud Brahman tdk terpengaruh oleh apapun, karena hal2 relatif ada di duniai wujud atau materi, Brahman sepenuhnya Rohani.

    Bagaimana kita mengetahui ada Tuhan?? Bukankah Tuhan itu tdk ada wujud??, mempunyai sifat (Kepribadian) Maha Penyayang, Maha ini, Maha itu, mungkin ada jutaan atau triliunan Maha???
    Kalau kita tidak mampu melihat Tuhan dan tidak memahami Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, bagaimana kita bisa memuja Beliau?? Hanya dengan wujud / maifestasi Tuhan-lah kita memahami Kepribadian Tuhan. Itulah maka ada Avatara dan Dewa Wisnu. Tuhan yang tanpa wujud tdk bisa berkomunikasi dengan manusia biasa. Manusia bisa berkomunikasi dengan mudahnya dengan Avatara, sehingga ilmu2 kerohanian yg benar bisa kita ketahui tanpa bias / dogma kaku.

    Adanya Dewa2 (adanya gambar atau patung Dewa di tempat suci) bukan berarti kita menyembah Dewa dan tidak menyembah Tuhan Tanpa Bentuk. Karena Dewa asalnya adalah Tuhan tanpa bentuk. Mantra Hindu selalu dimulai dengan “OM” yang artinya Tuhan yang Maha Esa (yg tanpa bentuk sekaligus berpribadi).

  7. Ram. saya salut sama Bro ahmad yg sudah mau minta penjelasan secara sopan tentang pemujaan patung yg dibilang Sekadar hiasan saja. setidaknya bro ahmad sudah mau bijaksana tidak mengambil kesimpulan dari sesuatu yg dianggapnya belum jelas. beda dgn orang lainnya yg terlalu cepat ikut ribut menanggapi sesuatu yg juga tidak dipahaminya. anyway… tentang pemujaan patung yg dianggap berhala oleh golongan agama Abrahamik ini, saya tidak akan mengeluarkan jurus bela diri jika kenyataannya demikian. bukankah di lapangan masih banyak umat yg mengaku Hindu mempraktekkan pemujaan untuk obyek-obyek yg tidak ada acuannya di kitab suci. misalnya membuat patung kambing lalu di kasi sesajen, ngleiat penampakan di pohon lalu pohonnya di kasi saput poleng dan di haturkan sesajen. nah kalo model kayak gini, ya jelas sj pemahaman orang muslim akan mengaitkannya dengan kondisi bangsa arab ketika suka quraish jahiliyah memuja ratusan patung yg tdk jelas acuannya hingga melupakan Kabah shg turunlah perintah utk menghancurkan kesemua patung sesembahan suku primitive itu yg kemudian diikuti oleh sebuah fatwa bahwa itu adalah berhala dan cara syaiton. tujuannya jelas agar pemujaan kepada Tuhan dikembalikan kepada substansinya semula. nah apa yg terjadi di indonesia sekarang, bisa jadi memiliki kesamaan dgn peristiwa sebelum turunnya Nabi dimana orang bingung menentukan mana Tuhan, Deva, Leluhur, Jin, Memedi, Gamang, ataupun Bhuta kala sehingga penggambaran atau Visualisasi dari semua itupun lebih mengacu kepada rasa dan imaginasi pribadi. (tetapi ingat bahwa penggambaran Tuhan Sri Krishna tidak bisa disamakan dalam hal ini karena rupa Tuhan Sri Krishna sudah berdasarkan penjelasan dari Deva Brahma sendiri sebagaimana tersusun dalam kitab Brahma Samhita).
    lantas apakah Tuhan dan Deva memang berbeda ? jawabannya ya sebagaimana penjelasan sloka di atas, sebab kalau sama, lalu ngapain Sri Krishna membedakan antara kata Aham dalam hubungannya sebagai Bhagavan dan juga para Deva. bukankah Tuhan memiliki 3 aspek utama sebagai Brahman, Paramatman, dan Bhagavan. selain itu Ia juga mengekspansikan dirinya menjadi ribuan jiwa dalam nama Manusia, roh halus, jin, bhuta, dsb. jadi mereka adalah juga bagian dari Tuhan tetapi Tuhan bukan mereka. ibarat air samudra yg telah diambil dan ditempatkan dalam ember, ia tidak lagi bisa disebut sebagai lautan walaupun masih memiliki rasa yg hampir sama. pointnya seseorang bisa diklaim sebagai pemuja berhala atau tidak, ya tergantung dari obyek yg disembahnya. ada acuan dan dasar hukum yg jelas tidak dalam kesusastraan agama sebab tidak semua bentuk pemujaan thd patung atau gambar ini dapat dikatagorikan sebagai perbuatan Syirik yg berusaha menyamakan Tuhan dgn ciptaan-Nya model penafsiran keliru dari banyak sodara kita di muslim ataupun kristen. HARI OM TAT SAT

  8. ampi chandra kirana said:

    apa yang bilang dengan mas pein tu benar

  9. Bhagavad-gita 7.22
    Setelah diberi kepercayaan seperti itu, dia berusaha menyembah dewa tertentu dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tetapi sebenarnya hanya Aku Sendiri yang menganugerahkan berkat-berkat itu.

    1. apa maksud/arti kalimat “setelah diberi kepercayaan seperti itu” apakah kepercayaan yg dimaksu?
    2. mohon penjelasan maksud kata “dia”, ditunujuk kepada siapa kata ganti “dia”?
    3. apakah dalam agama hindu ada konsep pahala dan siksa?
    4. apakah sangsi orang yang melakukan dosa?
    5. perbuatan apa saja yang dianggap baik dalam ajaran hindu?
    6. apakah yang dimaksud dgn dewa? bedakah dengan Tuhan?

    mohon penjelasan. Trims

    • Made Widnyana said:

      Berusaha utk jawab, kurang lebih sbb. :

      1. Berkaitan dg sloka sebelumnya :
      Bhagavad-gita 7.21 : Aku bersemayam di dalam hati semua orang sebagai Roh Yang Utama. Begitu seseorang menyembah dewa tertentu, Aku menjadikan kepercayaannya mantap supaya ia dapat menyerahkan diri kepada dewa itu.

      2. dia = seseorang

      3. pahala = kumpulan karma baik, kalau siksa itu didapat akibat karma buruk (karma buruk dari masa kehidupan sebelumnya atau saat kehidupan sekarang) , baik akan dinikmati saat ini atau mendatang atau pada reinkarnasi selanjutnya (kalau belum Moksa)

      4. Hukum sebab akibat (hukum alam semesta) diciptakan Tuhan, karma buruk (dosa) akan berakibat pada hal-hal buruk bagi pelakunya baik akan dinikmati sekarang, nanti, atau kelahiran selanjutnya (kalau belum Moksa).

      5. hal2 baik tentu banyak dan luas, terutama berfikir, berkata dan berbuat yg baik dan selaras, artinya apa hal baik yg diucapkan demikian pula yg dikerjakan. Tdk menyakiti orang lain atau mahluk lain, berkorban, tanpa pamrih, dsb.

      6. Tuhan itu Rohani tanpa wujud, tanpa rupa, tdk terbatas. Dewa itu berwujud tetapi Rohaninya para Dewa adalah percikan Rohani Tuhan yang Maha Esa.

  10. ingin sekali belajar banyak tentang bhagavad gita. Skarang saya bukan Hindu. Tapi jiwa saya telah banyak disentuh oleh situs dan ritus Hindu. Pada agama saya paham reinkarnasi dianggap haram. Tapi saya mengalaminya dan saya percaya akan reinkarnasi.

  11. maaf tanya!
    1,knapa wujud tuhan dpat d buat sepert it,bkankah tuhan tdak dpt dilat,tp d yakini,knapa membentk wujud than sepert it.
    2.renkarnasi,klo renkarnasi harusny makluk d dunia ini tetap,tp knp justru makin tambah. contoh. 5-1=(nah d kemblikan lg)5

    • Tuhan itu tdk berwujud seperti cahaya rohani yg tiada batas, jadi sdh pasti tdk bisa dilihat dan tanpa rupa, namun percikan rohani atau bagin-bagianNya mengambil wujud, misalnya roh tanpa wujud mendapat badan yg berwujud yg bisa kita lihat, atau alam semesta juga merupakan bagian kecil dari wujudNya karena dikatakan Tuhan (yang tidak berwujud itu) meliputi segalanya karena Tuhan tiada batas.
      Badan hanya alat bagi roh. (roh dlm agama hindu adalah Atman percikan Brahman (Tuhan ) yg tanpa rupa tanpa wujud yg kekal.

      Reinkarnasi adalah evolusi spiritual, roh (Atman) di hewan dan manusia adalah Atman yg sama, hanya badannya saja yg beda2, badan yg beda2 berakibat pada sifat dan kecerdasan yg beda2. Hewan juga terjebak pada kegiatan / kerja yg memberikan karma yg berakibat mendapat peningkatan derajat dan bisa reinkarnasi mendapat badan manusia.

    • 1 : patung di hindu itu hanya simbol….contoh: dlm agama hindu ilmu pengetahuan itu dilambangkan dgn dewi yg sangat cantik/dewi saraswati ini tujuannya supaya setiap orang tertarik dgn ilmu pengetahuan karena setiap orang pasti senang melihat wanita cantik….coba bayangkan klu ilmu pengetahuan itu dilambangkan dengan raksasa yg wajahnya menyeramkan…..silahkan bayangkan sendiri…..

      2 : dlm agama hindu setiap makluk hidup itu ada roh nya
      Manusia memiliki : sabda,bayu,idep.
      Binatang memiliki: sabda,bayu.
      Tumbuhan hanya memiliki bayu/roh saja……….pada intinya tumbuhan atau binatang punya kesempatan reinkarnasi jadi manusia……..buktinya semakin banyak pohon ditebang pasti populssi manusia semakin banyak…….

  12. tolong penjelasanya renkarnasi. orang yg mati akan d lhirkan lg k dunia menurut perbuatny,apabla jelek amalny kan d lahirkan derajat yg lbh rendah,spert cacat dan sbg-ny.bahkan d lahirkan menjd hewan.tp lo amalny baik kan d lahirkan dng drajat lbh tinggi,bla mampu mencpai moksa mka renkarnasi benhti,tp knytany skrang,manusia mkin tambh,dlm kdaan berbeda” n hewan pun jg msh bnyk n mungkin bertmbah dr sbgian jenis,jd sampai saat ini blm ad yg mencpai ksempurnaan,buktiny makluk d bmi mkin tambh.aq dngr dr penjelasan dri dr.zakir naik,dri india yg berdbt dng pendeta hindu.mohon penjelasany?mks.sblmny saya mintk maaf

    • Atman jumlahnya tdk bisa dihitung, ada di setiap mahluk dari mahluk bersel tunggal, tumbuhan, dst. Jumlah alam semesta tdk bisa dihitung, Juga alam semesta sdh ada sejak lama yg lamanya tdk bisa dihitung, alam semesta lahir dan lebur (kiamat) sdh banyak juga tdk bisa dihitung karena tidak berawal dan berakhir. Atman yg mendapat badan manusia adalah karunia yg berharga setelah evolusi spiritual dari banyak kelahiran dan tentunya hanya sedikit yg moksa, yg lainnya akan melalui kelahiran dan kematian berulang kali di bumi kemudian ke surga dan ke bumi lagi demikain seterusnya sampai mendapat kesempurnaan (Moksa), namun hanya di bumi manusia bisa belajar kerohanian yg memungkinkan mendapat kesempurnaan.

  13. Sifat atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan) yang Rohani tanpa wujud baru bisa difahami oleh manusia bahkan oleh para dewa bila Beliau mengambil wujud. Misalnya wujud yang Beliau pilih saat inkarnasi (Avatar) di Bumi adalah Krishna dan Rama, walaupun pada saat yang sama Bhagavan yang Rohani bisa ada dimana-mana dan juga pancaran cahaya Brahman yang Rohani ada dimana-mana tidak terbatas. Penggunaan sarana gambar atau patung dari wujud yang pernah Beliau pilih adalah hanya sarana untuk memudahkan dalam memfokuskan (mengingat) kepada Kepribadian Tuhan yang rohani / melampaui hal-hal material, bukan menyembah gambar / patung tersebut secara material. Walaupun juga pada umumnya gambar dan patung hanyalah “hiasan” dalam membawa suasana khusuk dan bersembahyang kehadapan Tuhan yang tanpa wujud dengan pengucapan “Om”.

  14. Om Swastiastu.
    kepada admin web ini mohon info untuk referensi diatas diambil dari bagavadgita yang diterjemahkan oleh siapa ya..?
    jika boleh tahu mohon untuk memberikan informasi ke saya.
    saya harap admin web ini tidak keberatan untuk informasi tersebut mengingat tiap versi bagavad gita tidak semua diterjemahkan dengan bahasa yang sama.
    dan saya masih memperlajarinya :)
    terimahasih
    santi…

    mohon info di: https://www.facebook.com/ari.asaprokok

  15. Faizal Noor said:

    Mohon maaf, menurut ajaran hindu. Apakan orang dari agama lain bisa masuk surga menurut kepercayaan hindu?

    • Wijaya Kusuma said:

      Tentu saja, karena perbuatan, perkataan dan berfikir yg baik itu universal, kesemuanya berhubungan dengan hukum alam semesta yg sama.

    • dalam agama hindu dikenal namanya tri kaya parisudha:
      manachika : berpikir yg baik
      wachika : berbicara yg baik
      kayika : berbuat yg baik
      kalau orang tsb sudah bisa menjalankan tri kaya parisudha biarpun orang tsb dari agama apapun pasti pintu surga akan terbuka……..cuma impormasi tujuan agama hindu itu bukan sorga tapi moksa……karena sorga itu adalah milik para dewa2…….kalau tidak salah dlm agama hindu sorga itu dbagin 7 bagian….dan setiap sorga itu dipimpin oleh dewa yg dikasi kepercayaan oleh brahman………
      IV.11
      Jalan manapun ditempuh manusia
      Kearah-Ku semuanya Ku-terima
      Dari mana-mana semua mereka
      Menuju jalan-Ku
      Maknanya : manusia bisa mencari Tuhan dengan melalui agama apapun.

    • gung indi said:

      tentu saja faizal noor. pada intinya, kita terlahir sama. unsur2 pembentuk tubuh kita sama. jiwa atau roh yang menghidupi kita sama. hanya saja kita diberikan pikiran dan ego, shg kita terlihat berbeda 1 sama lain. sbab dari pikiran lah kita jadi menafsirkan sesuatu dengan berbeda2. Tuhan yg menciptakan hukum semesta. dlm keyakinan Hindu tentang surga dan neraka, mereka (surga dan neraka) dihasilkan oleh hukum sebab akibat yang dlm kyakinan Hindu disebut dengan Karma Phala. Karma Phala intinya berarti apa yg kamu tanam itu yg kamu petik. kalo saya melihat sebenarnya surga dan neraka itu hukumnya universal dan adil, tdk memandang apa agamanya, sebab itu sudah merupakan hukum semesta yg diciptakan Tuhan. ada sebab pasti ada akibat. jika sebabnya adalah berbuat baik, maka akibatnya adalah mendapat surga. begitu juga sebaliknya. intinya surga dan neraka adalah hasil dari perbuatan yang kita lakukan, dan ini berlaku universal. tapi umat Hindu bukan sekedar mencari surga dan neraka, tapi berusaha mencari jalan untuk menyatu dengan Tuhan (moksa)

  16. maaf kalau menyinggung hati!
    Tentang reinkarnasi mengapa jumlah manusia semakin bertambah walaupun dilanda perang musibah dan sebagainya sedangkan hewan tumbuhan semakin berkurang
    bahkan punah jika ada reinkarnasi kan tidak logis apa lagi ditambah moksa? mohon penjelasanya!

  17. astawa putu said:

    Mku Astawa, kalau boleh saya ikut nimbrung tentang berhala,Bagi abang n none yang tidak berlatar blkang agama hindu mohon jangan cepat cepat menafsir ini dan itu tentang hindu,Lihatlah…”benda” yang ada di kota itu,yang disucikan oleh jutaan umat , kan juga benda, lalu berhala itu apa ? marilah segala sesuatunya kaji dengan pikiran yang jernih, Wasudewa kutumbhakam

  18. ardika cinta damai said:

    bagus sangat menarik dan luas suksma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: