Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

Alam material fana walaupun mendapatkan sedikit kesenangan tapi kemudian diikuti dengan penderitaan, penuh dengan ketidakpastian, bencana, kehilangan, kesedihan, kehinaan, rasa takut, rasa sakit, rapuh, kotoran, hal-hal yang menjijikkan, penyakit, umur tua, serta kematian yang bisa datang kapan saja. Hal-hal ini mulai menyadarkan kita untuk mencari ‘jaminan’ ketenangan dan kebahagiaan abadi di alam Rohani Tuhan bebas dari penderitaan di alam material.
Dengan kata lain tujuan kelahiran manusia adalah menyadari adanya Ketuhanan (Atman / Brahman) sebagai diri kita yang sejati dan hal yang sama untuk seluruh umat manusia dan semua mahluk.
Contoh, beberapa sifat-sifat Atman / Brahman antara lain adalah kebahagiaan dan cinta. Apabila kita merasakan kebahagiaan dan cinta yang disebabkan oleh suatu objek, sejatinya objek tersebut tidak memiliki sifat atau memberikan kebahagiaan/cinta, objek tersebut (yang hanya sementara) hanya media cermin memantulkan sedikit / seberkas sifat bahagia/cinta yang sebenarnya merupakan sifat sejati Atman.  Sedangkan ego dan nafsu serta sifat-sifat negative lainnya bukan sifat Atman / Brahman.

Secara garis besar ada 4 jalan/cara untuk melatih kesadaran Tuhan ini yang pada dasarnya meng-eliminasi pengaruh badan/indra/material yang sebenarnya maya tapi memunculkan ego, nafsu, fikiran dan tindakan yang berakibat merugikan diri sendiri dan orang lain sehingga terikat karma atau hukum sebab akibat alam semesta dan reinkarnasi (penderitaan / samsara ).
Kesadaran Tuhan adalah kebahagiaan abadi atau menyadari adanya Eksistensi / Dimensi Kekal yang ada dimana-mana tidak terbatas, Eksistensi Kekal ada dibalik benda-benda yang maya/tidak nyata/tidak kekal.

Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Bhakti Yoga)
Penyerahan diri kepada Tuhan, selalu ingat /sadar kepada Tuhan, tekun sepenuhnya dengan keyakinan dan cinta bhakti (cinta bhakti misalnya dengan hubungan Tuhan sebagai Ayah Alam Semesta), dan menyadari hanya Alam Rohani Tuhan Yang Abadi / kekal dan sebagai tujuan tertinggi..

Bhagavad-gita 2.49
Wahai Dhananjaya, jauhilah segala yang menjijikan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Mha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya adalah orang pelit.

Bhagavad-gita 8.8
Orang yang bersemadi kepada-Ku sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, dengan pikirannya senantiasa tekun ingat kepada-Ku, dan tidak pernah menyimpang dari jalan itu, dialah yang pasti mencapai kepada-Ku, wahai Partha.

Bhagavad-gita 8.22
Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang lebih agung daripada semua kepribadian lainnya, dapat dicapai oleh bhakti yang murni. Walaupun Beliau berada di tempat tinggal-Nya, Beliau berada di mana-mana, dan segala sesuatu berada di dalam Diri-Nya.

Bhagavad-gita 9.22
Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan yang lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku – Aku bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya.

Bhagavad-gita 10.10
Kepada mereka yang senantiasa setia ber-bhakti kepada-Ku dengan cinta kasih, Aku berikan pengertian yang memungkinkan mereka datang kepada-Ku.

Bhagavad-gita 9.34
Berpikirlah tentang-Ku senantiasa, jadilah penyembah-Ku, bersujud kepada-Ku dan menyembah-Ku. Dengan berpikir tentang-Ku sepenuhnya secara khusuk, pasti engkau akan datang kepada-Ku.

Tuhan senang bila engkau menolong dan melayani sesama manusia (pengabdian / dharmabakti). Kitab-kitab suci telah menetapkan 9 jalan bhakti, yaitu :

-    mendengarkan kisah-kisah Tuhan (shravanam)
–    menyanyikan kemuliaan Tuhan (kirtanam)
–    mengingat Nama-Nama Tuhan ( Vishnusmaranam)
–    melayani kaki Tuhan yang suci (padasevanam)
–    pemujaan (archanam)
–    sembah sujud (vandanam)
–    pengabdian (dasyam)
–    persahabatan (sneham)
–    pasrah / penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya (atmanivedanam)

Akan tetapi, jalan pengabdian (dharmabakti)-lah yang terluhur.

(Sabda Sathya Sai)

———————————————-

Pengorbanan, Yadnya (Karma Yoga)
Ketidakterikatan (tanpa pamrih) dalam hal kedermawanan, kewajiban, pelayanan sosial, melaksanakan pekerjaan sendiri (yang baik) dengan sebaik-baiknya, pertapaan (Upawasa), mengorbankan sift-sifat buruk (mengorbankan sifat-sifat hewani), pengendalian diri dengan tidak mendengarkan, tidak memikirkan, tidak berkata hal-hal buruk, menjaga lingkungan dan alam, tidak menyakiti mahluk lain.

Bhagavad-gita 2.61
Orang yang mengekang dan mengendalikan indria-indria sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-ku, dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan yang mantap.

Bhagavad-gita 3.13
Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja. (Catatan :  Baca mantra sebelum makan, misalnya 1 kali Mantra Gayatri)

Bhagavad-gita 3.19
Karena itu hendaknya seseorang bertindak karena kewajiban tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada Yang Mahakuasa.

Bhagavad-gita 4.27
Orang lain, yang berminat mencapai keinsafan diri dengan cara mengendalikan pikiran dan indria-indria, mempersembahkan fungsi-fungsi semua indria, dan nafas kehidupan, sebagai persembahan ke dalam api pikiran yang terkendali.

Bhagavad-gita 5.29
Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku sebagai penerima utama segala korban suci dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua makhluk hidup, akan mencapai kedamaian dari penderitaan kesengsaraan material.

Bhagavad-gita 16.1
Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari-cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua makhluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidak setiaan.

Bhagavad-gita 17.25
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’ (Om Tat Sat). Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material.

Bhagavad-gita 9.27
Apapun yang engkau lakukan, apapun yang engkau makan, apapun yang engkau persembahkan atau berikan sebagai sumbangan serta pertapaan dan apapun yang engkau lakukan-lakukanlah kegiatan itu sebagai persembahan kepada-Ku, wahai putera Kunti.

Upacara (yadnya) di Bali merupakan bagian dari Bhakti dan pengorbanan tulus iklas, termasuk saat proses membuat sarana.

Perempuan Bali sedang melaksanakan salah satu dari Yadnya

Perempuan Hindu Bali sedang melaksanakan salah satu dari Yadnya

———————————————-

Pengetahuan, Kebijaksanaan (Jnana Yoga)
Akal budi yang berkemampuan membeda-bedakan (Wiweka), akal budi harus dipergunakan untuk membedakan yang terbatas dengan yang tak terbatas, yang asli dan yang palsu, yang sementara dengan yang kekal.

Bhagavad-gita 2.15
Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyah karena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan.

Bhagavad-gita 2.48
Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga.

Bhagavad-gita 3.42
Indria-indria yang bekerja lebih halus daripada alam yang bersifat mati. Pikiran lebih halus daripada indria-indria; kecerdasan lebih halus lagi daripada pikiran; dan Dia (sang roh ) lebih halus lagi daripada kecerdasan.

Bhagavad-gita 5.9
Walaupun orang yang sadar secara rohani sibuk dapat melihat, mendengar, meraba, mencium, makan, bergerak ke sana ke mari, tidur dan tarik nafas, dia selalu menyadari di dalam hatinya bahwa sesungguhnya dia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia mengetahui bahwa berbicara, membuang hajat, menerima sesuatu, membuka atau memejamkan mata, ia selalu mengetahui bahwa hanyalah indria-indria material yang sibuk dengan obyek-obyeknya dan bahwa dirinya (Atman) menyisih dari indria-indria material tersebut.

Bhagavad-gita 13.30
Orang yang dapat melihat bahwa segala kegiatan dilaksanakan oleh badan, yang diciptakan oleh alam material, dan melihat bahwa sang diri (Atman) tidak melakukan apa pun, melihat dengan sebenarnya.

Bayangan dari suatu benda.. seolah-olah ada tapi sebenarnya tidak nyata, tapi bayangan benda itu berasal dari benda yang nyata ada.

Diri Kita Yang Sejati (Atman) berbeda dengan badan material yang boleh dianggap hanya kekosongan / tidak nyata (ingat benda pada akhirnya adalah atom, elektron, proton, quantum dst. yang hanyalah getaran yang berasal dari pancaran Paramatma, aspek Tuhan tanpa wujud yang ada di setiap partikel terkecil), badan dan benda-benda kita bisa dikatakan sama dengan gambaran orang yang ada di layar televisi atau bioskop, yang hanya pancaran elektron atau sinar, apapun kejadian yang terjadi di dalam layar televisi.. kita mestinya tidak menganggap hal yang nyata/benar ada di layar televisi tersebut.

Dengan istilah umum, benda-benda dan badan materi hanyalah gabungan dari Panca Maha Butha.
Jadi karena tubuh orang lain saja sesunggujnya tidak nyata ada.. apalagi misalnya hal-hal “negatif” yang muncul dari tubuh itu sendiri yaitu pikiran negatif, ego, amarah, suara dan gerak, dsb. bisa kita anggap tidak ada untuk mengembangkan / melatih ketidakterikatan.



———————————————-

Meditasi (Raja Yoga)
Pada praktek Meditasi pada dasarnya mengkondisikan tubuh, fikiran dll.  menjadi rileks sehingga mendekati frekuensi alam semesta tetapi harus dalam keadaan “jaga” yaitu duduk dengan badan tegak tidak bergerak tapi tidak tidur.

Dari penelitian jumlah energi yang diperlukan saat duduk meditasi lebih kecil daripada dalam keadaan berbaring atau tidur.  Saat meditasi pada saat tertentu dicapai nafas yang halus bahkan hampir tanpa nafas yang berarti saat itu kita sedang beristirahat lebih dalam, sehingga terjadi pemurnian untuk meningkatkan kecerdasan  serta akal budi akan lebih berperan mengatasi pikiran (misalnya mampu mencegah tindakan yang akan berakibat keburukan bagi diri sendiri dan orang lain), menumbuhkan kesabaran, kesehatan phisik dan mental, keberuntungan, bahkan pengikisan reaksi karma buruk, dll.

Praktek meditasi lain adalah Meditasi Cahaya yang menggunakan cahaya lilin. Penyebaran kasih yang diajarkan didalam Meditasi Cahaya yang secara lambat laun kita diangkat di angkat ke level ke Ilahian bukan egoisme.  Meditasi ini sangat aman dan bisa dipelajari oleh siapapun.

Sebagaimana diketahui, fikiran selalu bergerak liar terlebih saat meditasi, oleh karena itu berbagai cara untuk mengalihkan perhatian fikiran seperti : melafalkan suatu kata tanpa arti secara halus dan tanpa usaha (Meditasi Transendental, kata tanpa arti akan diberikan khusus oleh Guru TM), atau juga suatu mantra japa dalam hati berulang-ulang, membayangkan sinar lilin seperti pada Meditasi Cahaya, perhatian pada nafas masuk dan keluar, untuk meditasi mata sedikit terbuka dengan perhatian pada ujung hidung, perhatian pada cahaya Atma dalam diri, menghayati semuanya adalah Brahman, meditasi tersenyum sambil memancarkan kebahagiaan seperti yang dilakukan oleh Julia Roberts dalam film Eat Pray Love, dan beberapa cara lainnya.

Salah satu inti dari meditasi (dan juga praktek sembahyang yang lain seperti Japa, Bhajan) adalah sibuk dengan Tuhan dan melupakan khayal duniawi.

Bhagavad-gita 6.2
Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang disebut melepaskan ikatan sama dengan yoga atau mengadakan hubungan antara diri kita dengan Yang Mahakuasa, wahai putera Pandu, sebab seseorang tidak akan pernah dapat menjadi yogi kecuali ia melepaskan keinginan untuk memuaskan indria-indria.

Bhagavad-gita 6.25 
Berangsur-angsur, selangkah demi selangkah, seseorang harus mantap dalam semadi dengan menggunakan kecerdasan yang diperkokoh oleh keyakinan penuh, dan dengan demikian pikiran harus dipusatkan hanya kepada sang diri (Atman / Brahman) dan tidak memikirkan sesuatu selain itu.

Bhagavad-gita 6.26
Dari manapun pikiran mengembara karena sifatnya yang berkedip-kedip dan tidak mantap, seseorang dengan pasti harus menarik pikirannya dan membawanya kembali di bawah pengendalian sang diri.

Bhagavad-gita 6.27
Seorang yogi yang pikirannya sudah dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani. Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara dirinya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia di bebaskan dari segala reaksi perbuatan dari dahulu.

———————————————-

Ke-empat Jalan mencapai kepada Yang Maha Kuasa (Yoga) tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan tidak bisa dipisahkan, misalnya dengan pengetahuan (Jnana) kita melakukan Karma Yoga dengan lebih tidak terikat, seorang yang ber-Bhakti kepada Tuhan mesti juga menolong dan hormat dengan sesama manusia  dan mahluk hidup lainnya, serta peduli dengan lingkungan alam tanpa pamrih (Karma).

Tanpa menyiangi rumput di ladang dan menyiapkan tanahnya untuk ditanami, benih yang ditebarkan tidak akan menghasilkan panen yang baik. Demikian pula tanpa menghilangkan rerumputan liar egoisme dari dalam dirimu, segala usaha pengamalan spiritual akan sia-sia. Hal yang penting dipelajari dari Bhakti Yoga ialah bahwa engkau jangan hanya mencintai Tuhan, tetapi juga semua makhluk. Memuja Tuhan di satu pihak, tetapi di lain pihak merugikan atau menyakiti makhluk lain, tidak dapat dinamakan pengabdian kepada Tuhan. Hal itu hanya menunjukkan kedunguan seseorang. Orang semacam itu tidak akan pernah maju dalam bidang spiritual.

Jika engkau ingin dekat Tuhan, engkau harus mengembangkan sifat suci cinta kasih. Hanya dengan cinta kasih engkau akan dapat menghayati Tuhan, karena Dia adalah cinta kasih itu sendiri. Jika engkau ingin melihat bulan tidak perlu memakai lilin atau obor. Cahaya bulan itu sendiri sudah cukup untuk melihat bulan. Jika engkau ingin melihat Tuhan, engkau hanya perlu membenamkan dirimu dalam cinta kasih. Penuhilah dirimu dengan kasih, engkau pasti akan mencapai Tuhan.  (-Bhagavan Sri Sathya Sai Baba – ).

———————————————-

Pada bagian lain, pokok-pokok keimanan (kepercayaan) dalam agama Hindu dibagi menjadi lima bagian yang disebut dengan Panca Sradha, yaitu percaya adanya Tuhan (Bhagavan, Brahman), percaya adanya Atman (Diri Kita yang Sejati, percikan yang kekal dari Brahman), percaya adanya Hukum Karma Phala (Sebab Akibat), percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/ Samsara) dan percaya adanya Moksha (Kebebasan dari kelahiran dan kematian / penghancuran keterikatan dan kekaburan batin / bebas dari pengaruh daya tarik maya duniawi / kebahagiaan abadi ).


Ilustrasi : Badan (Kereta), Roh Individu (Penumpang),
Pengendalian Panca Indria (5 Kuda) oleh Akal Budi/
Kecerdasan (Kusir) melalui fikiran (tali kendali).


About these ads

Comments on: "Inti Ajaran Agama Hindu Pokok Pokok Prinsip Ajaran Agama Hindu" (7)

  1. Osa
    saya suka blog ini,,,bermanfaat sekali buat saya utk menambah pengetahuan ttg agama Hindu dan bhagawadgita

  2. Om swastyastu…
    Menambah wawasan sy tentang ajaran hindu…

  3. Juliantara said:

    Sangat bermanfaat untuk menambah wawasan ttg agama.. Suksma

  4. Semakin banyak orang membaca blog ini semakin banyak orang mengerti apa sebenarnya tujuan daripapada hidup. Dan orang bisa mengurangi ego yg ada pada diri masing2 insan manusia shg tercapai kedamaian di dunia dan di alam nirvana.suksme

  5. Wayan Kamajaya said:

    Om Swasti Astu
    Sekedar Share, Semoga bermanfaat
    Berjapa Gayatri & Pengertiannya
    Siapa saja yang bermeditasi pada mantra Gayatri setiap pagi dan sore pasti akan diberkati dengan umur yang panjang, kesehatan yang baik dan ketentraman batin. Perkataannya menjadi berkat. Ia akan mencapai penerangan batin dan merupakan berkat yang besar bagi masyarakat dan dunia.
    Sang hyang mantra japa ngarania.(Sarasamuscaya 369).

    Maksudnya: Mengulang-ulang pengucapan mantra-mantra suci, japa namanya.
    Pengucapan mantra secara berulang-ulang yang diyakini memiliki kekuatan magis religius. Mantra itu adalah Sabda Tuhan atau Sabda Tuhan itu disusun kembali oleh orang-orang suci dalam wujud baru tetapi tidak meninggalkan nilai kesuciannya yang merupakan substansi dari Mantra itu. Mantra Sabda Tuhan itu suci karena berasal dari Tuhan sendiri yang disampaikan oleh Maha Resi.
    Mantra yang dipilih sesuai dengan pilihan hati nurani masing-masing. Yang penting Mantra yang dipilih itu yang ada dalam Wedik Mantra, Puranik Mantra mapun Tantrika Mantra secara benar. Ini artinya berjapa itu juga memberikan kemerdekaan pada umat untuk memilih Mantra yang sesuai dengan kondisi umat masing-masing asalkan yang dipilih itu adalah Mantra yang sudah berstandar dalam pustaka Weda dan Sastranya itu sesuai dengan niat suci hati nurani yang akan melakukan japa.

    Pemilihan Mantra dalam berjapa itu juga disesuaikan dengan pilihan sampradaya yang dianut oleh umat bersangkutan. Sampradaya dalam bahasa Sanskerta artinya hidup dalam suatu kebersamaan yang dapat mendatangkan kekuatan yang disebut daya. Kata daya dalam bahasa Sansekerta artinya kasih yang merupakan unsur yang paling utama dalam diri manusia.
    Kalau hidup sudah berada di jalan darma maka itulah dasar untuk mencapai hidup aman (raksanam), dhanam (sejahetra).
    Berjapa dengan mengulang nama suci Tuhan jika dilakukan dengan hati yang tulus dan tekun akan memberikan vibrasi kedalam suksma / badan halus dimana Jiwa yang bersangkutan akan selalu melakukan japa dengan mengulang nama Tuhan, Walaupun Badan kasarnya sedang dalam kesibukkan bekerja untuk hidupnya. Disini kekuatan japa telah meresap kedalam Suksma sarira dan kedalam Jiwa.
    Dan Jika Sang Jiwa telah berjapa otomatis akan ada penampakan suci dari Tuhan itu sendiri untuk memberikan perlindungan dan restunya. Pada saat tersebut kekuatan negatip apapun tidak bisa menyentuh atau menyakitinya suksma sarira atau badan halus yang sedang melaksanakan japa, sedangkan kekuatan positip / kebaikan selalu bisa masuk guna memberikan restunya juga. Pada saat sang jiwa berjapa, yang bersangkutan adalah kesayangan Tuhan yang tidak bisa diganggu oleh siapapun.
    Dengan memohon kepada Bhatara Hyang Guru, maka kita akan dibimbing dan diberikan perlindungan. Karena berjalan di jalan spiritual akan banyak mengalami rintangan dan hambatan. Mencari Tuhan itu tidak gampang, karena Tuhan akan selalu menguji ketulusan kita dan keyakinan kita kepadaNya.
    Lakukanlah japa gayatri secara tulus, pikiran difokuskan pada makna mantram Gayatri. Japa dapat dihitung dengan menggunakan mala. Lakukanlah sadana ini secara rutin tiap hari, bisa dilakukan pada pagi dan malam hari. Dengan keyakinan, maka pencerahan pasti akan dirasakan secara perlahan, karena dimanapun Gayatri diucapkan maka azas Brahman akan memberikan penerangan pada baktanya. Energi atau getaran halus dari Gayatri akan memberikan pencerahan tentang Brahman, dan pemenuhan segala keinginan. Namun jangan sekali-kali memanfaatkan Gayatri untuk menyakiti orang, karena akan berbalik pada kita. Gayatri adalah sepenuhnya anugrah dari Brahman, maka melakukan meditasi ini merupakan penyerahan diri sepenuhnya kepada Brahman Yang Agung.
    Umumnya nama suci Tuhan yang sering dipakai seperti : Om Nama Siwa Ya, Om Namo Bhagawate Wasudewa ya, Gayatri Mantra, dsbnya. Lakukanlah Japa dengan tekun dan rasakan manfaatnya, sehingga terhindar dari gangguan niskala.
    MENGAPA PERLU BERJAPA?
    Japa adalah pengulangan mantra atau Nama Suci Tuhan secara terus menerus dalam rangka sadhana spiritual untuk memperoleh anugerah Hyang Widhi. Pentingnya japa sebagai metode spiritual telah ditegaskan dalam kitab suci Bhagavad Gita dalam sloka yang berbunyi : Yajnanam japa yajnosmi yang berarti : Diantara yajna,Aku (Hyang Widhi) adalah Japa yajna. Kitab Agni Purana, menjelaskan akar kata japa berasal dari hurup ja dan pa. Ja berarti kekuatan penghancuran atas ikatan samsara (kelahiran dan kematian),sedangkan Pa bermakna penghancuran semua dosa. Sedangkan dalam Lingga Purana,Dewa Shiwa menegaskan keagungan berjapa kepada Dewi Parvati sbb: “Dewi,didalam setiap yajna yang lain,berbagai bentuk cacat akan terjadi melalui pikiran,kata atau perbuatan. Tetapi didalam japa-yajna hal seperti itu tidak akan terjadi. Karena itulah japa yajna adalah yang paling agung diantara semuanya.” Meskipun demikian, untuk mencapai hasil yang maksimal, pelaksanaan japa yajna harus diikuti dengan ketekunan sadhana, motivasi bhakti dan bhawa yang benar,keyakinan serta kerendahan hati. Atau seperti wejangan yang terdapat dalam kakawin Arjuna Wiwaha : wyarthekang japamantra yan kasalimur dening rajah mwang tamah,nghing yan langgeng ikang siwasmreti dating sraddha bhatareswara” (Jauhlah dari tujuannya japamantra yang diucapkan itu apabila bathin masih diliputi oleh rajah dan tamah, tetapi apabila pikiran teguh ngarcana Dewa Siwa,maka yakinlah Beliau akan mendatanginya)

  6. sip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: