Artikel Agama Hindu, Ajaran atau Pelajaran Tentang Agama Hindu

Posts tagged ‘ibadah dalam hindu’

Inti Ajaran Agama Hindu

Alam material fana walaupun mendapatkan sedikit kesenangan tapi kemudian diikuti dengan penderitaan, penuh dengan ketidakpastian, bencana, kehilangan, kesedihan, kehinaan, rasa takut, rasa sakit, rapuh, kotoran, hal-hal yang menjijikkan, penyakit, umur tua, serta kematian yang bisa datang kapan saja. Hal-hal ini mulai menyadarkan kita untuk mencari kebahagiaan abadi bebas dari penderitaan di alam material.

Jadi tujuan kelahiran manusia adalah kebahagiaan abadi dengan menyadari diri kita yang sejati dan kekal yaitu Atman ( Jiwa, Spirit yang tidak berwujud), bukan badan yang bersifat rapuh dan sementara. Atman adalah percikan kecil dari Brahman, Tuhan Yang Maha Besar, kekal, tidak berwujud, tidak terbatas, tidak terfikirkan, mengatasi ruang dan waktu, sumber semua ciptaan dan kebahagiaan.
Apabila kita merasakan kebahagiaan dan cinta yang disebabkan oleh suatu objek atau keadaan, sejatinya objek tersebut tidak memberikan kebahagiaan, objek tersebut (yang hanya sementara dan terus berubah) hanya media memantulkan sedikit saja kebahagiaan yang sebenarnya merupakan sifat sejati Atman.

Ada contoh penjelasan untuk hal tersebut di atas :

Bayi kecil suka mengisap jempolnya dan menelan ludahnya. Ia merasa senang karena ia mengira bahwa dari jempolnya keluar susu, tetapi kenyataannya ludah yang dikira susu, keluar dari mulutnya sendiri, bukan dari jempolnya. Ia tertipu karena mengira bahwa sumber kesenangannya berasal dari luar dirinya. Ada lagi contoh lain. Seekor anjing mendapat tulang yang keras. Setelah mendapat tulang, anjing itu sangat senang dan tidak mau membaginya dengan anjing lain, lalu ia membawa tulang itu ke tempat yang sunyi. Di sana ia memandang dan mengagumi tulang itu lalu mulai menggerogotinya. Karena tulang tua, benda itu keras sekali. Dengan penuh semangat dan mengerahkan segala kamampuannya anjing itu terus menggigit hingga sebuah giginya lepas. Darahnya menetes dan mengalir ke tulang. Anjing yakin kalau darah itu keluar dari tulang dan ia sangat menikmati rasanya. Tetapi kenyataannya darah tidak keluar dari tulang, melainkan dari mulutnya sendiri. Tentunya anjing tidak menyadari kebenaran ini; sama halnya dengan bayi tadi, ia tertipu karena mengikuti khayalan pikirannya sendiri.

Secara garis besar ada 4 jalan atau cara untuk melatih kesadaran Tuhan (latihan rohani) ini yang pada dasarnya meng-eliminasi pengaruh dan kecenderungan terhadap dunia material yang bersifat relatif dan sementara, yang memunculkan kebodohan, ego, nafsu, motif dan keinginan berkelanjutan, kemudian perasaan, perkataan dan tindakan yang berakibat merugikan diri sendiri dan orang lain, sehingga terikat karma atau hukum sebab akibat alam semesta dan reinkarnasi (penderitaan / samsara ) atau diistilahkan dengan “jerat maya”.

Ilustrasi Atman dari Percikan Brahman

Bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Bhakti Yoga)
Kepercayaan dan penyerahan diri kepada Tuhan, pengabdian atau pemujaan dengan kasih dan tulus ikhlas.

Bhagavad-gita 2.49
Wahai Dhananjaya, jauhilah segala yang menjijikan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Mha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil pekerjaannya adalah orang pelit.

Bhagavad-gita 9.22
Tetapi orang yang selalu menyembah-Ku dengan bhakti tanpa tujuan yang lain dan bersemadi pada bentuk rohani-Ku – Aku bawakan apa yang dibutuhkannya, dan Aku memelihara apa yang dimilikinya.

Bhagavad-gita 10.10
Kepada mereka yang senantiasa setia ber-bhakti kepada-Ku dengan cinta kasih, Aku berikan pengertian yang memungkinkan mereka datang kepada-Ku.

Bhagavad-gita 9.34
Berpikirlah tentang-Ku senantiasa, jadilah penyembah-Ku, bersujud kepada-Ku dan menyembah-Ku. Dengan berpikir tentang-Ku sepenuhnya secara khusuk, pasti engkau akan datang kepada-Ku.

Tuhan senang bila engkau menolong dan melayani sesama manusia (pengabdian / dharmabakti). Kitab-kitab suci telah menetapkan 9 jalan bhakti, yaitu :

–    mendengarkan kisah-kisah Tuhan (shravanam)
–    menyanyikan kemuliaan Tuhan (kirtanam)
–    mengingat Nama-Nama Tuhan ( Vishnusmaranam)
–    melayani kaki Tuhan yang suci (padasevanam)
–    pemujaan (archanam)
–    sembah sujud (vandanam)
–    pengabdian (dasyam)
–    persahabatan (sneham)
–    pasrah / penyerahan diri kepada Tuhan sepenuhnya (atmanivedanam)

Akan tetapi, jalan pengabdian (dharmabakti)-lah yang terluhur (gabungan bhakti dan karma yoga). ~ dari Sabda Sathya Sai

Yadnya di Bali

Pengorbanan, Yadnya (Karma Yoga)
Melepaskan motif pribadi dan harapan pahala dari segala kegiatan, dimana kegiatan terutama diarahkan untuk kepentingan yang lebih luas, dan berbagai jenis pengorbanan lain yang dimaksudkan untuk pelepasan ikatan.

Bhagavad-gita 3.13
Para penyembah Tuhan dibebaskan dari segala jenis dosa karena mereka makan makanan yang dipersembahkan terlebih dahulu untuk korban suci. Orang lain, yang menyiapkan makanan untuk kenikmatan indria-indria pribadi, sebenarnya hanya makan dosa saja. (Catatan :  Baca mantra sebelum makan, misalnya 1 kali Mantra Gayatri)

Bhagavad-gita 3.19
Karena itu hendaknya seseorang bertindak karena kewajiban tanpa terikat terhadap hasil kegiatan, sebab dengan bekerja tanpa ikatan terhadap hasil seseorang sampai kepada Yang Mahakuasa.

Bhagavad-gita 4.27
Orang lain, yang berminat mencapai keinsafan diri dengan cara mengendalikan pikiran dan indria-indria, mempersembahkan fungsi-fungsi semua indria, dan nafas kehidupan, sebagai persembahan ke dalam api pikiran yang terkendali.

Bhagavad-gita 5.29
Orang yang sadar kepada-Ku sepenuhnya, karena ia mengenal Aku sebagai penerima utama segala korban suci dan pertapaan, Tuhan Yang Maha Esa penguasa semua planet dan dewa, dan penolong yang mengharapkan kesejahteraan semua makhluk hidup, akan mencapai kedamaian dari penderitaan kesengsaraan material.

Bhagavad-gita 16.1
Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari-cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua makhluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidak setiaan.

Bhagavad-gita 17.25
Tanpa menginginkan hasil atau pahala, hendaknya seseorang melakukan berbagai jenis korban suci, pertapaan dan kedermawanan dengan kata ‘tat’. Tujuan kegiatan rohani tersebut ialah untuk mencapai pembebasan dari ikatan material. (“Tat” bagian dari “Om Tat Sat”)

Bhagavad-gita 9.27
Apapun yang engkau lakukan, apapun yang engkau makan, apapun yang engkau persembahkan atau berikan sebagai sumbangan serta pertapaan dan apapun yang engkau lakukan-lakukanlah kegiatan itu sebagai persembahan kepada-Ku, wahai putera Kunti.

Tanah, Air, Api, Udara, Ruang, Ego dan kecerdasan terpisah dari Atma

Pengetahuan, Kebijaksanaan (Jnana Yoga)
Akal budi yang berkemampuan membeda-bedakan (Wiweka), akal budi harus dipergunakan untuk membedakan yang sementara dengan yang kekal, melihat dengan cara yang benar.

Bhagavad-gita 3.42
Indria-indria yang bekerja lebih halus daripada alam yang bersifat mati. Pikiran lebih halus daripada indria-indria; kecerdasan lebih halus lagi daripada pikiran; dan Dia (sang roh ) lebih halus lagi daripada kecerdasan.

Bhagavad-gita 6.8
Dikatakan bahwa seseorang sudah mantap dalam keinsafan diri dan dia disebut seorang yogi apabila ia puas sepenuhnya atas dasar pengetahuan yang telah diperoleh dan keinsafan. Orang seperti itu mantap dalam kerohanian dan sudah mengendalikan diri. Dia melihat segala sesuatu – baik batu kerikil, batu maupun emas – sebagai hal yang sama.

Bhagavad-gita 6.9
Seseorang dianggap lebih maju lagi apabila dia memandang orang jujur yang mengharapkan kesejahteraan, penolong yang penuh kasih sayang, orang netral, perantara, orang iri, kawan dan musuh, orang saleh dan orang yang berdosa dengan sikap pikiran yang sama.

Bhagavad-gita 7.4
Tanah, air, api, udara, angkasa, pikiran, kecerdasan dan keakuan yang palsu – secara keseluruhan delapan unsur ini merupakan tenaga-tenaga material yang terpisah dari Diri-Ku.

Bhagavad-gita 5.9
Walaupun orang yang sadar secara rohani sibuk dapat melihat, mendengar, meraba, mencium, makan, bergerak ke sana ke mari, tidur dan tarik nafas, dia selalu menyadari di dalam hatinya bahwa sesungguhnya dia sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia mengetahui bahwa berbicara, membuang hajat, menerima sesuatu, membuka atau memejamkan mata, ia selalu mengetahui bahwa hanyalah indria-indria material yang sibuk dengan obyek-obyeknya dan bahwa dirinya (Atman) menyisih dari indria-indria material tersebut.

Bhagavad-gita 13.30
Orang yang dapat melihat bahwa segala kegiatan dilaksanakan oleh badan, yang diciptakan oleh alam material, dan melihat bahwa sang diri (Atman) tidak melakukan apa pun, melihat dengan sebenarnya.

Bayangan dari suatu benda.. seolah-olah ada tapi sebenarnya tidak nyata, walaupun bayangan benda itu berasal dari benda yang nyata.

Diri Kita Yang Sejati (Atman) berbeda dengan badan material yang boleh dianggap hanya kekosongan / tidak nyata, benda-benda pada akhirnya adalah gabungan dari banyak atom, lebih halus dari atom adalah energi, dst. yang hanyalah getaran yang berasal dari pancaran Paramatma. Paramatma adalah aspek Tuhan tanpa wujud yang ada di setiap partikel terkecil / atom. Secara kasat mata, badan dan benda-benda lainnya bisa kita anggap sama dengan gambaran orang yang ada di layar televisi atau bioskop, yang hanya pancaran elektron atau sinar, apapun kejadian yang terjadi di dalam layar televisi.. kita mestinya tidak menganggap hal yang nyata ada di layar televisi tersebut.

Dengan istilah umum, benda-benda dan badan materi hanyalah gabungan dan kombinasi dari unsur-unsur Panca Maha Butha (Tanah, Air, Api, Udara, Ruang).
Bila kita bayangkan tubuh manusia, orang lain, sesungguhnya hanya tanah, air, udara semata, maka hal-hal yang muncul seperti suara dan gerak, bagaikan hembusan debu-debu dan suara hembusan debu-debu, apalagi misalnya hal-hal yang muncul dari debu-debu itu seperti kemarahan, kebencian, kesombongan dsb. bisa kita anggap tidak ada, untuk mengembangkan / melatih ketidakterikatan.

meditasi-atma

Meditasi (Raja Yoga)
Meditasi secara sederhananya adalah untuk memusatkan perhatian pada sesuatu hal sehingga manas (fikiran, perasaan, bathin, hayalan) tidak terseret atau terpengaruh pada hal-hal lain. Hal ini seperti “mengikat” perhatian pada satu titik atau suatu objek, apabila perhatian kembali lepas ke dunia objektif luar yang bersifat relatif dan terus berubah-bah, perhatian diusahakan dikembalikan lagi ke titik objek semula, demikian seterusnya sehingga terbiasa. Manas diibartkan besi yang sebenarnya “dingin”, tapi menjadi “panas” oleh karena membiarkan dirinya terus-menerus terpapar api dunia objektif luar.

Meditasi pada umumnya dengan cara duduk bersila dengan badan tegak seimbang tidak bergerak, rileks tapi tidak tidur. Meditasi di atas lantai atau tanah harus beralaskan matras atau bahan lainnya. Sebaiknya jangan meditasi dalam rentang kira-kira 2 jam setelah makan karena diperlukan energi untuk metabolisme.

Jumlah energi yang diperlukan saat duduk meditasi lebih kecil daripada dalam keadaan berbaring atau tidur.  Saat meditasi pada saat tertentu dicapai nafas yang lebih halus bahkan mungkin hampir tanpa nafas yang berarti saat itu kita sedang beristirahat lebih dalam, meditasi adalah untuk pemurnian akal budi dan manas, lambat laun mengikis penghalang sinar Atma.

Kata dhyanam yang berarti meditasi, yang dimaksud adalah meditasi terhadap Tuhan. Karena itu, meditasi sama dengan bhakti, kedua-duanya merupakan proses pemusatan pikiran terhadap Tuhan dengan mengesampingkan yang lain-lain.

Bhagavad-gita 6.19
Ibarat lampu di tempat yang tidak ada angin tidak bergoyang, seorang rohaniwan yang pikirannya terkendalikan selalu mantap dalam semadinya pada sang diri yang rohani dan melampaui hal-hal duniawi.

Bhagavad-gita 6.25 
Berangsur-angsur, selangkah demi selangkah, seseorang harus mantap dalam semadi dengan menggunakan kecerdasan yang diperkokoh oleh keyakinan penuh, dan dengan demikian pikiran harus dipusatkan hanya kepada sang diri dan tidak memikirkan sesuatu selain itu.

Bhagavad-gita 6.26
Dari manapun pikiran mengembara karena sifatnya yang berkedip-kedip dan tidak mantap, seseorang dengan pasti harus menarik pikirannya dan membawanya kembali di bawah pengendalian sang diri.

Bhagavad-gita 6.27
Seorang yogi yang pikirannya sudah dipusatkan pada-Ku pasti mencapai kesempurnaan tertinggi kebahagiaan rohani. Dia berada di atas pengaruh sifat nafsu, dia menginsafi persamaan sifat antara dirinya dan Yang Mahakuasa, dan dengan demikian dia di bebaskan dari segala reaksi perbuatan dari dahulu.

————

Tanpa menyiangi rumput di ladang dan menyiapkan tanahnya untuk ditanami, benih yang ditebarkan tidak akan menghasilkan panen yang baik. Demikian pula tanpa menghilangkan rerumputan liar egoisme dari dalam dirimu, segala usaha pengamalan spiritual akan sia-sia. Hal yang penting dipelajari dari Bhakti Yoga ialah bahwa engkau jangan hanya mencintai Tuhan, tetapi juga semua makhluk. Memuja Tuhan di satu pihak, tetapi di lain pihak merugikan atau menyakiti makhluk lain, tidak dapat dinamakan pengabdian kepada Tuhan. Hal itu hanya menunjukkan kedunguan seseorang. Orang semacam itu tidak akan pernah maju dalam bidang spiritual.

Jika engkau ingin dekat Tuhan, engkau harus mengembangkan sifat suci cinta kasih. Hanya dengan cinta kasih engkau akan dapat menghayati Tuhan, karena Dia adalah cinta kasih itu sendiri. Jika engkau ingin melihat bulan tidak perlu memakai lilin atau obor. Cahaya bulan itu sendiri sudah cukup untuk melihat bulan. Jika engkau ingin melihat Tuhan, engkau hanya perlu membenamkan dirimu dalam cinta kasih. Penuhilah dirimu dengan kasih, engkau pasti akan mencapai Tuhan.  (-Bhagavan Sri Sathya Sai Baba – ).

————

Sebagai kesimpulan dari pokok-pokok keimanan dalam agama Hindu disebut dengan Panca Sradha, yaitu percaya adanya Tuhan (Bhagavan, Brahman), percaya adanya Atman (Diri Kita yang Sejati, percikan yang kekal dari Brahman), percaya adanya Hukum Karma Phala (Sebab Akibat), percaya adanya Punarbhawa (Reinkarnasi/ Samsara) dan percaya adanya Moksha (Kebebasan dari kelahiran dan kematian / penghancuran keterikatan dan kekaburan batin / bebas dari pengaruh daya tarik maya duniawi / kebahagiaan abadi ).


Ilustrasi : Badan (Kereta), Roh Individu (Penumpang),
Pengendalian Panca Indria (5 Kuda) oleh Akal Budi/
Kecerdasan (Kusir) melalui fikiran (tali kendali).

———————————————-

 

bcc

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers